Penulis : Hisnindarsyah
Beberapa waktu terakhir, saya sering terjebak dalam perenungan mendalam. Pikiran saya tidak sedang tertuju pada rumitnya menangani penyakit jantung, bukan pula soal kecanggihan teknologi pemasangan stent atau jenis obat-obatan terbaru yang paling efektif. Justru, perhatian saya tersita pada sesuatu yang fundamental namun sering terabaikan: pendidikan kedokteran kita.
Kita semua tahu, menjadi orang tua dari seorang calon dokter adalah impian yang sangat mulia. Namun, di balik kemuliaan itu, saya mulai bertanya-tanya dengan jujur: apakah kita sebagai masyarakat, dan terutama sebagai orang tua, masih memahami secara utuh apa artinya menjadi seorang dokter di zaman modern ini?
Dahulu, profesi dokter memiliki daya pikat yang hampir mistis. Dokter adalah simbol puncak intelektualitas, sosok yang dihormati, mapan, dan representasi keberhasilan sebuah keluarga. Tidak mengherankan jika banyak orang tua yang sejak dini “mendesain” masa depan anaknya. Sejak sekolah dasar, mereka dijejali les matematika, kursus bahasa Inggris, hingga bimbingan olimpiade. Tujuannya sangat terarah: SMP favorit, SMA favorit, Fakultas Kedokteran favorit, dan akhirnya, sah menjadi dokter.
Esensi Yang Hilang
Di atas kertas, skenario ini tampak logis dan sempurna. Namun, semakin lama saya bergelut di dunia medis, semakin jelas bagi saya bahwa ada esensi yang hilang dalam perjalanan tersebut. Kita lupa bahwa menjadi dokter adalah sebuah maraton, bukan sekadar lari jarak pendek. Masyarakat sering melihat mahasiswa kedokteran dan berkata, “Masa depan mereka sudah aman.” Padahal, kenyataannya itu hanyalah titik awal dari perjalanan yang panjang, melelahkan, dan penuh pengorbanan—melalui fase koas, uji kompetensi, internship, hingga spesialisasi dan subspesialisasi yang menuntut waktu bertahun-tahun. Sering kali, seseorang baru benar-benar mencapai kemandirian di usia tiga puluhan, sementara rekan di bidang lain mungkin sudah mapan jauh lebih awal.
Menjadi dokter saat ini bukan lagi sekadar jalan pintas menuju kemapanan. Lebih dari itu, menjadi dokter menuntut kualitas yang jauh lebih dalam daripada sekadar kepintaran. Selama ini, kita cenderung mengukur calon dokter melalui angka-angka: nilai rapor, peringkat kelas, atau sertifikat lomba. Padahal, saat praktik nanti, pasien tidak datang membawa soal pilihan ganda. Mereka datang dengan ketakutan yang nyata, kecemasan yang mendalam, rasa sakit yang fisik maupun batin, serta harapan yang menggantung.
Saya kerap menyaksikan fenomena menarik: ada dokter yang secara intelektual sangat jenius, namun gagal membangun koneksi emosional dengan pasiennya. Sebaliknya, ada dokter yang mungkin dulu bukan juara kelas, namun memiliki kemampuan luar biasa untuk membuat pasien merasa didengar, dihargai, dan ditenangkan. Dan percayalah, pasien akan selalu mengingat dokter jenis kedua, karena manusia membutuhkan “kehadiran” dan sentuhan kemanusiaan, bukan sekadar diagnosa medis.
Sejalan dengan gagasan yang pernah disampaikan Prof. Purba, keberhasilan manusia tidak bisa hanya bertumpu pada otak kiri (akademik). Harus ada harmoni dengan otak kanan (kemanusiaan). Anak-anak tidak cukup hanya dididik untuk lihai berhitung; mereka harus belajar memahami manusia. Mereka harus belajar bekerja sama, memimpin, menghadapi kegagalan, dan bangkit kembali. Mereka harus belajar mendengar dan peduli—hal-hal yang tidak bisa direplikasi oleh Artificial Intelligence (AI).
Inilah alasan mengapa kegiatan seperti Pramuka, organisasi kemahasiswaan, pencinta alam, hingga kegiatan sosial dan olahraga beregu memiliki nilai yang sangat besar. Kegiatan-kegiatan ini mungkin tidak menaikkan angka di rapor, tetapi mereka membangun karakter yang jauh lebih berharga: empati, ketahanan mental, kemampuan berkomunikasi, dan keberanian mengambil keputusan di situasi yang penuh ketidakpastian. Bukankah keterampilan inilah yang sebenarnya paling dibutuhkan dokter saat melayani manusia?
Saya memiliki kekhawatiran serius jika anak hanya dihargai karena prestasinya. Mereka akan tumbuh dengan keyakinan bahwa harga diri mereka ditentukan oleh angka dan sertifikat. Padahal, kehidupan tidak selalu linear. Ketika mereka menghadapi kegagalan atau kekalahan—yang pasti akan terjadi—mereka mungkin akan kehilangan pijakan. Mereka hanya belajar menjadi “anak yang pintar”, bukan “manusia yang utuh”.
Belajar memahami
Dokter yang baik bukanlah mereka yang menghafal buku teks paling tebal atau memiliki IPK sempurna. Dokter yang baik adalah mereka yang tetap mampu melihat manusia di balik penyakitnya. Mereka yang tetap memiliki kerendahan hati untuk mendengarkan, ketulusan untuk tetap peduli, dan rasa ingin tahu yang tidak pernah padam. Ilmu bisa diajarkan, tetapi ketulusan dan empati adalah kualitas yang harus ditanamkan.
Maka, jika ada orang tua bertanya kepada saya tentang kecocokan anak mereka menjadi dokter, saya tidak akan melihat rapor mereka. Saya akan bertanya: Apakah anak Anda bahagia saat membantu orang lain? Apakah mereka mampu bertahan saat gagal? Apakah mereka memiliki empati dan rasa ingin tahu yang besar? Dan yang terpenting, apakah mereka tetap ingin menjadi dokter setelah mengetahui betapa berat dan panjang jalan pengorbanan ini?
Karena menjadi dokter adalah sebuah panggilan untuk terus belajar memahami manusia. Untuk tugas sebesar itu, kecerdasan memang penting, tetapi kecerdasan saja tidak akan pernah cukup. Mungkin inilah saatnya kita berhenti terobsesi dengan pertanyaan “bagaimana cara masuk Fakultas Kedokteran” dan mulai fokus pada “bagaimana cara mendidik anak menjadi manusia yang utuh”. Karena jika ia menjadi manusia yang utuh, ia akan membawa keberkahan dan manfaat yang luas bagi dunia, apa pun profesi yang akhirnya ia pilih nanti. Bukankah pada akhirnya, kemanfaatan itulah yang paling berarti?.
Dewan Penasehat IDI Jatim/Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter NU